Sabtu, 30 Juli 2016

Ciptakan Game Kodok, Sekelompok Mahasiswa Madura Banggakan Nama Tanah Air !

Bestprofit


PT Bestprofit Futures - Pada ajang bertajuk ‘Imagine Cup 2016’ yang digelar Microsoft di Seattle, Washington, Amerika Serikat sekelompok anak muda Indonesia yang tergabung dalam sebuah tim bernama ‘None Developer’ berhasil membungkus kemenangan manis di tempat kedua dalam kategori Games. Kelompok yang beranggotakan M.A Kholiq, Anwar Fuadi, Astu Masrundi, serta Achmad Dany Romadhon yang sama-sama berasal dari satu Universitas Trunojoyo tersebut membuat bangga Indonesia dengan mengalahkan hampir semua kompetitornya.

Selain mereka, ada 35 tim pelajar yang berasal dari Negara lain yang juga turut meramaikan kompetisi tersebut. sesuai namanya, Game Kodok yang mereka perkenalkan bertajuk ‘Froggy and the Pesticide’ tersebut diciptakan dengan berbagai informasi edukatif, terkait dengan manfaat biopestisida serta bahaya bagi lingkungan.

Karakter Kodok yang dipersonifikasikan pada Game Kodok tersebut juga berfungsi untuk mempermudah penyampaian informasi. Pada Game Kodok bertajuk Froggy and the Pesticide tersebut pemain akan diharuskan menggerakkan karakter kodok hijau untuk melewati berbagai rintangan. Sebagai tujuan akhir, karakter kodok hijau tersebut adalah untuk menekan dan mematikan alat penyebar pestisida yang membuat tanaman menangis.

Bestprofit


None Developers berharap, para pemain Game Kodok akan dapat menangkap pesan yang tertanam pada game tersebut serta mampu mengimplementasikan ilmunya pada kehidupan sehari-hari. Tampaknya, visi sosial yang disampaikan Game Kodok tersebutlah yang akhirnya mengantarkan Game Kodok ke tangga juara nomor dua.

Atas kemenangan yang diperolehnya, empat pemuda asal Madura tersebut diganjar dengan hadiah berupa uang senilai 10.000 US Dollar atau setara dengan sekitar 131 jutaan yang diberikan pihak Microsoft sebagai penyelenggara. Game Froggy and the Pesticide sendiri kini telah dapat dinikmati pada platform Windows phone serta android.

Sementara itu, sebagai informasi jika ‘Imagine Cup 2016’ merupakan ajang kompetisi di bidang teknologi berskala global yang diciptakan khusus untuk kalangan pelajar. Hingga kini, ajang itu sendiri sudah tercatat dilaksanakan selama 14 kali sejak pertama kalinya tahun 2013 silam.

(cc, Bestprofit)

Kamis, 28 Juli 2016

Berubah ke Jalur Parpol, PDIP Soroti Sikap Inkonsisten Ahok

Bestprofit


PT Bestprofit Futures - JAKARTA, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menghangatkan peta politik di DKI dengan niatannya bertarung lewat jalur independen. Berkali-kali niatannya itu seolah-olah tak goyah, apalagi dengan pergerakan dari Teman Ahok yang mengklaim berhasil mengumpulkan satu juta lebih KTP.

Namun apa dikata, niat itu kini berubah. Ahok kemarin mendeklarasikan dirinya maju lewat jalur partai politik dengan dukungan dari Partai NasDem, Partai Hanura dan Partai Golkar. Ia pun meminta Teman Ahok untuk menghargai dukungan parpol tersebut.

Lantas saat ini diduga Ahok sedang mendekati PDI Perjuangan (PDIP), yang tak lain pernah jadi partai yang "ditunggangi" mantan Bupati Belitung Timur itu saat maju di DKI bersama Joko Widodo (Jokowi).

Tapi tunggu dulu, PDIP rupanya menyoroti inkonsistensi Ahok dalam pencalonnya. Apalagi Ahok dengan mudahnya meninggalkan basis pendukungnya sendiri.

"Ujung drama pengumpulan KTP hanya alat tawar. Akhirnya (Ahok) menyadari pilihan pencalonannya melalui jalur partai karena modal drama KTP belum mampu meyakinkan pencalonannya maju melalui jalur perorangan," kata politikus PDIP, Masinton Pasaribu, di Jakarta, Kamis (28/7/2016).

"Kami akan mengkaji dalam-dalam menyangkut perilaku masing-masing para bakal calon. Apalagi bakal calon yang dengan mudah meninggalkan basis pendukungnya seperti meninggalkan dukungan dari partai maupun meninggalkan dukungan perorangan melalui pengumpula KTP," lanjut Masinton.


Bagi PDIP, kata Masinto, konsistensi sangat penting karena menyangkut dukungan dan kepercayaan yang dimandatkan kepada bakal calon yang akan diusung.

(cc, Bestprofit)

Rabu, 27 Juli 2016

Pangsa Pasar Bank Syariah Ditarget Tembus 5 Persen

Bank Syariah - Bestprofit
Perbankan syariah. (ilustrasi)

Bestprofit - JAKARTA -- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai potensi pertumbuhan pangsa pasar perbankan syariah dalam jangka panjang sangat besar. Hal ini mengingat Indonesia merupakan negara muslim terbesar di dunia. 


Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman D Hadad menjelaskan, saat ini pangsa pasar atau market share perbankan syariah di Indonesia masih terbilang kecil. Untuk pangsa pasar bank syariah terhadap total pasar perbankan nasional tercatat baru mencapai 4,87 persen pada akhir 2015. Kendati masih kecil, menurutnya potensi pertumbuhan pangsa pasar perbankan syariah sangatlah besar.

"Kita melihat dalam jangka menengah dan panjang potensinya besar tapi dalam jangka pendek memang masih di bawah lima persen," ujar Muliaman pada acara 41st Annual Meeting Islamic Develoment Bank (IDB) di Jakarta Convention Center (JCC), Senin (16/5).

Muliaman menjelaskan, untuk meningkatkan pangsa pasar perbankan syariah, pelaku industri harus terus melakukan sosialisasi dan meningkatkan awareness (pengetahuan/kepedulian) mengenai industri perbankan syariah. Ia mengaku terus mendorong perkembangan perbankan syariah. 

Menurutnya hal yang diperlukan adalah jumlah nasabah yang diperbanyak, dan sosialisasi harus diperluas. Selain itu, kerja sama dengan berbagai pihak terkait juga menjadi suatu keperluan. Untuk itu, pihaknya telah meluncurkan roadmap keuangan syariah yang memuat rencana jangka pendek dan menengah. 

"OJK malah sudah bikin roadmap sampai tahun 2019 dengan rencana jangka pendek dan menengah yang dilihat secara fundamental. Aturannya juga sudah lengkap dituangkan dalam roadmap tersebut," ujarnya.

Meski demikian, Muliaman mengakui jika saat ini Indonesia belum bisa menyamai pangsa pasar perbankan syariah di negara tetangga seperti Malaysia yang telah mencapai 20-40 persen. Namun, setidaknya tahun ini, OJK  menargetkan pangsa pasar perbankan syariah dapat tumbuh di atas lima persen.

"Kalau di Malaysia kan sharenya 20-40 persen. Artinya gini, (kita) potensinya besar, cuma tinggal kemampuan kita saja untuk segera mensosialisasikan dan membangunkan awareness, sehingga orang tahu ada alternatif pendanaan di perbankan syariah. (Targetnya) kita coba tembus lima persen dulu lah," katanya. 

sumber: republika.co.id

Neymar tidak Khawatir Kalah di Olimpiade 2016

Neymar

Best Profit - BARCELONA—Superstar Neymar Jr. tidak merumput saat Copa America Centenario. Namun ia terbang ke Amerika Serikat untuk mendukung Brasil sekaligus berpesta dengan selebriti Hollywood dan penyanyi Justin Bieber.

Neymar akan kembali memimpin Brasil di Olimpiade melawan Afrika Selatan, Irak, dan Denmark di babak penyisihan grup. Pertandingan babak penyisihan grup ini dimulai pada 4 Agustus. 

Neymar mengaku tidak merasa khawatir jika Brasil kalah di Olimpiade 2016. Sebab memikirkan kekalahan akan merampas keinginan untuk menang, “Saya tidak suka kalah. Saya ingin membawa medali emas untuk Brasil,” kata Neymar , dikutip dari Marca, Rabu (27/7)

Selain itu, gaya hidup Neymar yang gemar berpesta saat di luar lapangan banyak disorot publik. Terkadang gaya hidupnya juga dikritik oleh publik.

“Saat saya berada di luar lapangan itu saatnya saya menjadi diri saya sendiri. Saya ingin pergi keluar dan bersenang-senang dengan teman dan keluarga saya. Jadi mengapa saya tidak bisa pergi ke klub?,” ujarnya.

“Saya menyadari apa tugas saya di hari berikutnya. Saya akan terus pergi dan saya tidak melihat sesuatu yang salah dengan itu,” katanya lagi.

sumber: republika.co.id

Sama-sama Bikin Mesin Pencari, Mengapa Google Lebih Sukses dari Yahoo?

Yahoo - Bestprofit
CEO Yahoo Marissa Mayer

Bestprofit - Yahoo dan Google sama-sama perusahaan raksasa dalam kategori mesin pencari internet. Tapi ada sejumlah faktor yang membuat nasib kedua perusahaan ini berbeda.

Salah satu perbedaan yang penting untuk diketahui adalah fokus dan keputusan-keputusan yang dipilih pada masa pengembangan perusahaan.

Yahoo merupakan raja mesin pencari pada masa awal tahun 2000. Mereka membawahi beberapa situs dengan traffic paling tinggi di internet dan memiliki valuasi pasar hingga 125 miliar dollar Amerika Serikat (AS) atau setara Rp 1.643 triliun.

Perkembangan Yahoo sendiri tidak terpusat pada teknologi mesin pencari yang mestinya merupakan inti dari bisnis mereka. Keputusan-keputusan perusahaan terombang-ambing di antara 6 orang CEO yang seringkali mementingkan konten ketimbang teknologi.

Hal seperti itu sebenarnya bisa dimaklumi. Sejak awal pendiriannya, Yahoo bukanlah perusahaan yang kental dengan pengaruh teknologi.

Jerry Yang dan David Filo, dua orang lulusan Stanford University, mendirikan Yahoo dengan cara mengumpulkan orang untuk menyusun indeks dari hasil kurasi ribuan situs yang ada di internet.

Saat itu ada lusinan pekerja yang disewa untuk memproses permintaan pendataan index dari berbagai situs. Perusahaan juga membuat layanan lain seperti berita, e-mail, dan ruang mengobrol.

Dan terbitlah Google

Empat tahun setelah pendirian Yahoo, yaitu 1998, Larry Page dan Sergey Brinn yang sama-sama lulusan Stanford University, mendirikan Google. Mereka memilih pendekatan berbeda dibandingkan Yahoo.

Page dan Brinn membuat sebuah software berisi algoritma rumit yang berfungsi untuk menelusuri internet dan mengumpulkan konten. Penelusuran ini murni menggunakan mesin dan berjalan secara otomatis.

Google pun dengan cepat berkembang dan mengalahkan index internet milik Yahoo. Bahkan, mesin pencari berbasis software ini bisa menyesuaikan bentuknya dengan sangat mudah mengikuti boominginternet.

Pada tahun 2000, Yahoo pun sempat menyewa Google untuk menggerakkan mesin pencari mereka. Kerja sama ini hanya bertahan hingga tahun 2004.

Beda fokus Yahoo dan Google

Di saat mesin pencari buatan Google tumbuh besar, Yahoo masih saja berusaha mengurasi internet menggunakan tenaga manusia. Hingga pada suatu waktu, pionir mesin pencari itu mulai sadar dan berusaha memutar haluan.

Sebagaimana dilansir KompasTekno dari Wall Street Journal, Rabu (27/7/2016), upaya putar haluan itu gagal. Sementara itu posisi Google sebagai mesin pencari sudah sangat kokoh.

Sejak awal pendiriannya, Google tetap fokus mengembangkan teknologi mesin pencari. Kualitas mesin itu pula yang menarik minat banyak pengguna. Mereka yang memakainya memasukkan berbagai kata kunci dan pertanyaan ke mesin tersebut.

Selanjutnya, Google menyelipkan iklan di hasil pencarian orang-orang. Perusahaan pun memperbesar keuntungan dengan cara melelang ruang yang bisa menampilkan iklan relevan dengan konteks pengguna.

Bisnis iklan ini, hingga sekarang, menjadi sebuah cerita sukses paling fenomenal sepanjang sejarah perdagangan modern.

Alphabet, induk usaha Google saat ini, mereguk keuntungan sebesar 75 miliar dollar AS atau sekitar Rp 987,3 triliun pada 2015 lalu. Sekitar 90 persen dari keuntungan itu diperoleh dari bisnis iklan mereka.

Yahoo yang melihat kesuksesan itu berusaha mengganti strategi. Mereka membeli perusahaan mesin pencari dan teknologi periklanan hingga memutus kerja sama dengan Google pada 2004.

Sayangnya, pionir mesin pencari itu gagal. Selanjutnya, perusahaan berusaha meraih keuntungan dengan cara lama, strategi konten dan media.

CEO Yahoo saat ini, Marissa Mayer, juga telah melakukan berbagai cara untuk membuat perusahaan tetap mereguk untung. Di antaranya dengan membayar hak siaran NFL senilai 20 juta dollar atau setara Rp 263,3 miliar, namun tetap saja gagal.

Sementara itu, Google yang fokus pada teknologi telah berhasil mengembangkan berbagai produk yang dipakai miliaran orang, antara lain Gmail, Maps, dan berkembang ke bisnis OS mobile Android. Semua produk itu merupakan saluran yang terhubung ke bisnis iklan mereka.

Sekarang, Yahoo sudah dijual senilai 4,83 miliar AS atau setara Rp 63 triliun kepada Verizon. Mesin pencari itu akan memulai babak baru sebagai pelengkap strategi perusahaan induknya.


Senin, 25 Juli 2016

Xiaomi Redmi Pro Berbahan Logam, Seharga 210 Dolar Saja?

Xiaomi - BestProfit

BestProfit - Semakin mendekati hari debutnya, bocoran mengenai Xiaomi Redmi Pro kembali ditemukan. Kali ini bocoran gambar dan informasi perkiraannya yang ditemukan, dan diungkap oleh Gizmochina belum lama ini.
Bocoran pertama berupa gambar yang menunjukkan bagian belakang dari Redmi Pro. Terlihat bahwa Redmi Pro memakai logam seperti beberapa flagship Xiaomi sebelumnya, namun kali ini tidak logam mulus tapi berjenis brushed metal (logam yang digosok). Bocoran gambar baru ini sekaligus memperkuat bocoran gambar yang sudah beredar sebelumnya.
Xiaomi - BestProfit

Dari bocoran tersebut juga tidak terlihat adanya sensor sidik jari di bagian belakang. Karenanya diperkirakan sensor tersebut terletak di tombol Home di bagian depan.
Sementara itu bocoran lain yang disebut-sebut berasal dari orang dalam mengungkapkan harga jual Redmi Pro. Pembocor bernama Kevin Wang tersebut menyatakan bahwa Redmi Pro akan dibanderol 1299/1399 yuan (sekitar 195/210 dolar). Melihat ada duanya harga tersebut maka diperkirakan akan ada dua versi Redmi Pro yang disiapkan yaitu versi dasar dan tinggi.
Xiaomi - BestProfit

Xiaomi kemungkinan akan mengumumkan Redmi Pro bersama Mi Notebook pada tanggal 27 Juli mendatang.

sumber:  teknoup.com

Aneh, Holding Energi Hanya Sebatas Pertamina Caplok PGN

Rencana pemerintah membentuk holding energi dinilai aneh dan rancu, lantaran menurut pengamat hal itu hanya sebatas upaya menjadikan PGN sebagai anak usaha Pertamina/Ilustrasi

Bestprofit - JAKARTA - Rencana pemerintah membentuk holding energi dinilai aneh dan rancu, lantaran menurut pengamat hal itu hanya sebatas upaya menjadikan PT Perusahaan Gas Negara (PGN) sebagai anak usaha PT Pertamina (Persero). Rencana pemerintah melalui Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tersebut didesak agar ditunda dahulu.

“Saya setuju sekali BUMN Migas di Indonesia harus kuat untuk selesaikan carut marut energi di Indonesia. Tapi kalau hanya sebatas Pertamina akusisi PGN agak rancu dan aneh,” kata Pakar ekonomi bisnis dari Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta Tri Widodo di Jakarta, Senin (25/7/2016).

Menurut dia Dewan Energi Nasional (DEN) sangat konsen dalam menyikapi rencana pemebntukan holding energi. Pasalnya tujuan dari holding BUMN energi laik dilakukan.  


“Namun ketika hanya sebatas PGN dan Pertamina saja, ini yang jadi masalah. Akuisisi ini saya tidak setuju karena hanya melalui selembar kertas RPP (Rancangan Peraturan Pemerintah). Pertamina tidak bisa disalahkan, PGN juga. Tapi Kementerian BUMN yang harus menjelaskan secara rinci,” lanjutnya.

Dia mengatakan, pembentukan holding melalui inbreng saham PGN ke Pertamina akan memunculkan tata kelola kurang baik dari sisi praktik pasar modal. Artinya, pemerintah bisa semena-mena kepada perusahaan BUMN yang sudah berstatus terbuka.

“Kalau kita baca 56% saham PGN dikuasai pemerintah dan sisanya dikuasai pemegang saham publik. Dengan hanya RPP, disitu pengalihan saham PGN secara otomatis jadi anak usaha Pertamina. Ini tidak sehat,” ujarnya.

Menurutnya pemegang saham publik PGN harus mengetahui rencana tersebut dengan jelas. Selain itu pemerintah juga harus menyampaikan rencana holding energi kepada publik agar tidak ada yang dirugikan

Adapun mekanismenya ialah pemegang saham minoritas dan publik harus diutamakan dan dilindungi karena selama ini PGN didukung oleh pemegang saham publik. Dia memberikan solusi bahwa pemerintah selaku pemegang saham mayoritas harus menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). 

“RUPS ini agendanya apakah setuju atau tidak ada perpindahan kepemilikan. Karena berdasarkan UU tentang pasar modal. Apapun informasi fakta material harus diketahui publik. Jangan sampai ada gugatan ke depannya,” terang dia.

Menurutnya jika memang setuju tidak ada masalah. Dan jika ada yang tidak setuju, maka pemerintah haruslah melakukan buyback dulu saham PGN. “Nah ini biayanya besar bisa mencapai Rp 28 triliun menurut perhitungan saya,” ungkapnya.

Dia menyarankan sebaiknya pemerintah melalui Kementerian BUMN menunda atau membatalkan rencana yang belum jelas tersebut. “Ungkap terlebih dahulu secara rinci kepada publik, jangan melalui RPP yang tiba-tiba,” pungkas dia.

sumber: sindonews.com